Filsafat
tidak akan didapat selain di dalam dan diantara manusia yang berfikir. Manusia
adalah mahluk yang berfikir : homo sapiens, dia mempunyai kesadaran, fikiran
dan roh. Jika ia bertindak, ia tahu bahwa ia bertindak dan jika ia berfikir, ia
tahu bahwa ia berfikir. Manusia adalah mahluk berfikir : filsuf adalah manusia
berfikir. Di dalam filsafat terdapat berbagai macam aliran. Disini akan dibahas
salah satu contoh aliran filsafat yaitu filsafat eksistensi.
Eksistensialisme
berkembang pada abad 20. Eksistensialisme adalah
filsafat yang memandang segala gejala dengan berpangkal kepada eksistensi. Eksistensi adalah cara manusia berada dalam dunia. Cara manusia berada dalam dunia berbeda dengan cara berada benda-benda. Benda-benda berada
dengan tidak sadar tanpa hubungan. Sedangkan manusia berada di dunia justru
berhubungan dengan sesama manusia dan berhubungan dengan benda-benda. Eksistensialisme adalah aliran yang tidak membahas esensi manusia
secara abstrak, melainkan secara spesifik yang meneliti kenyataan kongkret
manusia sebagaimana manusia itu sendiri berada dalam dunianya. Aliran ini
hendak mengungkapkan eksistensi manusia sebagaimana yang dialami manusia itu
sendiri. Oleh sebab itu, para eksistensialis menyebut manusia sebagai suatu
proses, menjadi gerak yang aktif dan dinamis. Dalam masalah kebebasan dan
kehidupan yang otentik oleh eksistensialisme dianggap sebagai dua masalah yang
sangat mendasar bagi kehidupan manusia. Manusia diyakini sebagai makhluk yang
bebas dan kebebasan itu adalah modal dasar untuk hidup sebagai individu yang
otentik dan bertanggung jawab.
a. Latar
belakang lahirnya filsafat eksistensialisme
Filsafat
eksistensialisme lahir dari berbagai krisis atau merupakan reaksi atas aliran
filsafat yang telah ada sebelumnya atau situasi dan kondisi dunia, yaitu:
1). Materialisme
Menurut pandangan materialisme, manusia
itu pada akhirnya adalah benda seperti halnya kayu dan batu. Memang orang
materialis tidak mengatakan bahwa manusia sama dengan benda, akan tetapi mereka
mengatakan bahwa pada akhirnya, jadi pada prinsipnya, pada dasarnya, pada
instansi yang terakhir manusia hanyalah sesuatu yang material; dengan kata lain
materi; betul-betul materi. Menurut bentuknya memang manusia lebih unggul ketimbang
sapi tapi pada eksistensinya manusia sama saja dengan sapi.
2). Idealisme
Aliran ini memandang manusia hanya
sebagai subyek, hanya sebagai kesadaran; menempatkan aspek berpikir dan
kesadaran secara berlebihan sehingga menjadi seluruh manusia, bahkan dilebih-lebihkan
lagi sampai menjadi tidak ada barang lain selain pikiran.
3). Situasi dan Kondisi Dunia
Munculnya eksistensialisme didorong
juga oleh situasi dan kondisi di dunia Eropa Barat yang secara umum dapat
dikatakan bahwa pada waktu itu keadaan dunia tidak menentu. Tingkah laku
manusia telah menimbulkan rasa muak atau mual. Penampilan manusia penuh
rahasia, penuh imitasi yang merupakan hasil persetujuan bersama yang palsu yang
disebut konvensi atau tradisi. Manusia berpura-pura, kebencian merajalela,
nilai sedang mengalami krisis, bahkan manusianya sendiri sedang mengalami
krisis. Sementara itu agama di sana dan di tempat lain dianggap tidak mampu
memberikan makna pada kehidupan.
Sartre,
filsuf eksistensi perancis dewasa ini malahan mengatakan, bahwa kesadaran pada
manusia adalah bersifat bertanya yang sebenar-benarnya. Yang bertanya ialah
manusia; yang ditanya ialah kenyataan dalam arti yang paling umum; yang menjadi
pokok pertanyaan mungkin; sebab atau tujuan
peristiwa-peristiwa tertentu, arti kejadian-kejadian tertentu, akibat
perbuatan-perbuatan tertentu dan sebagainya. Kaum filsafat eksistensi adalah
ahli fikir dari type yang berlainan sekali daripada
kaum neopositivis, mereka lebih lincah, lebih dramatis lebih problematis dan
lebih irasionil. Persoalan mereka, problematik mereka adalah lain sama sekali.
Mereka tidak pertama-tama merenungkan ilmu dan metode keilmuan, melainkan
manusia dan kemanusiaan.
b. Tokoh-tokoh
Eksistensialisme dan Ajarannya
Eksistensialisme
berasal dari pemikiran Soren Kierkegaard ( Denmark, 1833-1855), namun Jean Paul
Sartre (1905-1980) yang mempopulerkan aliran ini. Selain dua tokoh di atas,
masih banyak tokoh-tokoh dalam aliran ini. Berikut tokoh-tokoh dalam aliran
eksistensialisme adalah :
1). Soren Kierkegaard
Soren
Aabye Kierkegaard (lahir di Kopenhagen, Denmark, 5 Mei 1813 – meninggal di
Kopenhagen, Denmark, 11 November 1855 pada umur 42 tahun) adalah seorang filsuf
dan teolog abad ke-19 yang berasal dari Denmark.
Menurut
Kierkegaard manusia tidak pernah hidup sebagai sesuatu “aku umum”, tetapi
sebagai “aku individual”. Inti pemikirannya adalah eksistensi manusia bukanlah
sesuatu yang statis tetapi senantiasa menjadi, manusia selalu bergerak dari
kemungkinan menuju suatu kenyataan, dari cita-cita menuju kenyataan hidup saat
ini. Jadi ditekankan harus ada keberanian dari manusia untuk mewujudkan apa
yang ia cita-citakan atau apa yang ia anggap kemungkinan. Kesadaran akan diri
merupakan kata kunci, karena melalui kesadaran akan dirinya inilah manusia
berproses ke arah yang lebih baik. Kesadaran akan diri muncul bila manusia
memiliki kebebasan menentukan.
2). Jean Paul
Sartre
Jean Paul Sartre (1905-1980) lahir
tanggal 21 Juni 1905 di Paris dan meninggal di Paris, 15 April 1980 pada umur
74 tahun) adalah seorang filsuf dan penulis Perancis. Ia dianggap yang
mempopulerkan aliran eksistensialisme. Sebagai filsuf dia dikenal karena
beberapa uraian psichologi tentang khayalan dan pula karena karangannya yang
besar L’etre et le neant (wujud dan ketiadaan), yang terbit dalam tahun 1943.
Manusia tidak memiliki apa-apa saat dilahirkan dan selama hidupnya ia tidak
lebih hasil kalkulasi dari komitmen-komitmennya di masa lalu. Karena itu,
menurut Sartre selanjutnya, satu-satunya landasan nilai adalah kebebasan
manusia (L’homme est condamné à être libre). Ia menekankan pada kebebasan
manusia, manusia setelah diciptakan mempunyai kebebasan untuk menetukan dan
mengatur dirinya. Konsep manusia yang bereksistensi adalah makhluk yang hidup
dan berada dengan sadar dan bebas bagi diri sendiri.
3). Martin
Heidegger
Martin
Heidegger (lahir di Mebkirch, Jerman, 26 September 1889 meninggal 26 Mei 1976
pada umur 86 tahun) adalah seorang filsuf asal Jerman. Ia belajar di
Universitas Freiburg di bawah Edmund Husserl, penggagas fenomenologi, dan kemudian
menjadi profesor di sana 1928.
Inti pemikirannya adalah keberadaan manusia diantara keberadaan yang lain, segala sesuatu yang berada diluar manusia selalu dikaitkan dengan manusia itu sendiri, dan benda-benda yang ada diluar manusia baru mempunyai makna apabila dikaitkan dengan manusia karena itu benda-benda yang berada diluar itu selalu digunakan manusia pada setiap tindakan dan tujuan mereka. Dengan kata lain, benda-benda materi, alam fisik, dunia yang berada di luar manusia tidak akan bermakna atau tidak memiliki tujuan apa-apa kalau terpisah dari manusia. Jadi, dunia ini bermakna karena manusia.
Inti pemikirannya adalah keberadaan manusia diantara keberadaan yang lain, segala sesuatu yang berada diluar manusia selalu dikaitkan dengan manusia itu sendiri, dan benda-benda yang ada diluar manusia baru mempunyai makna apabila dikaitkan dengan manusia karena itu benda-benda yang berada diluar itu selalu digunakan manusia pada setiap tindakan dan tujuan mereka. Dengan kata lain, benda-benda materi, alam fisik, dunia yang berada di luar manusia tidak akan bermakna atau tidak memiliki tujuan apa-apa kalau terpisah dari manusia. Jadi, dunia ini bermakna karena manusia.
4). Friedrich
Nietzsche
Menurut
Friedrich, manusia yang berkesistensi adalah manusia yang mempunyai keinginan
untuk berkuasa (will to power), dan untuk berkuasa manusia harus menjadi
manusia super (uebermensh) yang mempunyai mental majikan bukan mental budak.
Dan kemampuan ini hanya dapat dicapai dengan penderitaan karena dengan
menderita orang akan berfikir lebih aktif dan akan menemukan dirinya sendiri.
5). Nicholas
Berdyaev
Berdyaev dilahirkan di Kiev dalam
suatu keluarga militer aristokrat. Ia hidup sendirian di masa kanak-kanaknya di
rumah, dan perpustakaan ayahnya memungkinkannya banyak membaca. Ia membaca
karya-karya Hegel, Schopenhauer, dan Kant ketika usianya baru 14 tahun dan ia
menguasai berbagai bahasa asing. Filsafatnya dicirikan sebagai eksistensialis
Kristen. Ia sangat memperhatikan kreativitas dan khususnya kemerdekaan dari
segala sesuatu yang menghalangi kreativitas. Berdyaev adalah seorang Kristen
yang saleh, namun ia seringkali kritis terhadap gereja yang mapan. Sebuah
artikel pada 1913 mengecam Sinode Kudus dari Gereja Ortodoks Rusia menyebabkan
ia dituduh menghujat, dan hukumannya adalah pembuangan ke Siberia seumur hidup.
Perang Dunia dan Revolusi Bolshevik membuat ia tidak pernah diajukan ke
pengadilan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar