Rabu, 26 November 2014
Revisi Filsafat
ALIRAN FILSAFAT EKSISTENSIALISME DAN IMPLIKASINYA TERHADAP TUJUAN
PENDIDIKAN
Filsafat
tidak akan didapat selain di dalam dan diantara manusia yang berfikir. Manusia
adalah mahluk yang berfikir : homo sapiens, dia mempunyai kesadaran, fikiran
dan roh. Jika ia bertindak, ia tahu bahwa ia bertindak dan jika ia berfikir, ia
tahu bahwa ia berfikir. Manusia adalah mahluk berfikir : filsuf adalah manusia
berfikir. Di dalam filsafat terdapat berbagai macam aliran. Disini akan dibahas
salah satu contoh aliran filsafat yaitu filsafat eksistensialisme
Eksistensialisme
berkembang pada abad 20. Eksistensialisme adalah
filsafat yang memandang segala gejala dengan berpangkal kepada eksistensi. Eksistensi adalah cara manusia berada dalam dunia. Cara manusia berada dalam dunia berbeda dengan cara berada benda-benda. Benda-benda berada
dengan tidak sadar tanpa hubungan. Sedangkan manusia berada di dunia justru
berhubungan dengan sesama manusia dan berhubungan dengan benda-benda. Eksistensialisme adalah aliran yang tidak membahas esensi manusia
secara abstrak, melainkan secara spesifik yang meneliti kenyataan kongkret
manusia sebagaimana manusia itu sendiri berada dalam dunianya. Aliran ini
hendak mengungkapkan eksistensi manusia sebagaimana yang dialami manusia itu
sendiri. Oleh sebab itu, para eksistensialis menyebut manusia sebagai suatu
proses, menjadi gerak yang aktif dan dinamis. Dalam masalah kebebasan dan
kehidupan yang otentik oleh eksistensialisme dianggap sebagai dua masalah yang
sangat mendasar bagi kehidupan manusia. Manusia diyakini sebagai makhluk yang
bebas dan kebebasan itu adalah modal dasar untuk hidup sebagai individu yang
otentik dan bertanggung jawab.
a.
Latar
belakang lahirnya filsafat eksistensialisme
Filsafat
eksistensialisme lahir dari berbagai krisis atau merupakan reaksi atas aliran
filsafat yang telah ada sebelumnya atau situasi dan kondisi dunia, yaitu:
1). Materialisme
Menurut pandangan materialisme, manusia
itu pada akhirnya adalah benda seperti halnya kayu dan batu. Memang orang
materialis tidak mengatakan bahwa manusia sama dengan benda, akan tetapi mereka
mengatakan bahwa pada akhirnya, jadi pada prinsipnya, pada dasarnya, pada
instansi yang terakhir manusia hanyalah sesuatu yang material; dengan kata lain
materi; betul-betul materi. Menurut bentuknya memang manusia lebih unggul
ketimbang sapi tapi pada eksistensinya manusia sama saja dengan sapi.
2). Idealisme
Aliran ini memandang manusia hanya
sebagai subyek, hanya sebagai kesadaran; menempatkan aspek berpikir dan
kesadaran secara berlebihan sehingga menjadi seluruh manusia, bahkan
dilebih-lebihkan lagi sampai menjadi tidak ada barang lain selain pikiran.
3). Situasi dan Kondisi Dunia
Munculnya
eksistensialisme didorong juga oleh situasi dan kondisi di dunia Eropa Barat
yang secara umum dapat dikatakan bahwa pada waktu itu keadaan dunia tidak
menentu. Seperti, pemberontakan aliran ini terhadap alam yang impersonal (tanpa
kepribadian) dari zaman industri modern dan teknologi, serta gerakan massa.
Protes terhadap gerakan-gerakan totaliter, baik gerakan fasis, komunis, yang
cenderung menghancurkan atau menenggelamkan perorangan di dalam massa. Dengan
kata lain, kebebasan merupakan hal yang sangat langka pada saat itu.
b.
Tokoh-tokoh Eksistensialisme dan Ajarannya
Eksistensialisme
berasal dari pemikiran Soren Kierkegaard ( Denmark, 1833-1855), namun Jean Paul
Sartre (1905-1980) yang mempopulerkan aliran ini. Selain dua tokoh di atas,
masih banyak tokoh-tokoh dalam aliran ini. Berikut tokoh-tokoh dalam aliran
eksistensialisme adalah :
1). Soren Kierkegaard
Soren
Aabye Kierkegaard (lahir di Kopenhagen, Denmark, 5 Mei 1813 – meninggal di
Kopenhagen, Denmark, 11 November 1855 pada umur 42 tahun) adalah seorang filsuf
dan teolog abad ke-19 yang berasal dari Denmark.
Menurut
Kierkegaard manusia tidak pernah hidup sebagai sesuatu “aku umum”, tetapi
sebagai “aku individual”. Inti pemikirannya adalah eksistensi manusia bukanlah
sesuatu yang statis tetapi senantiasa menjadi, manusia selalu bergerak dari
kemungkinan menuju suatu kenyataan, dari cita-cita menuju kenyataan hidup saat
ini. Jadi ditekankan harus ada keberanian dari manusia untuk mewujudkan apa
yang ia cita-citakan atau apa yang ia anggap kemungkinan. Kesadaran akan diri
merupakan kata kunci, karena melalui kesadaran akan dirinya inilah manusia
berproses ke arah yang lebih baik. Kesadaran akan diri muncul bila manusia
memiliki kebebasan menentukan.
2). Jean Paul
Sartre
Jean Paul Sartre (1905-1980) lahir
tanggal 21 Juni 1905 di Paris dan meninggal di Paris, 15 April 1980 pada umur
74 tahun) adalah seorang filsuf dan penulis Perancis. Ia dianggap yang
mempopulerkan aliran eksistensialisme. Sebagai filsuf dia dikenal karena
beberapa uraian psichologi tentang khayalan dan pula karena karangannya yang
besar L’etre et le neant (wujud dan ketiadaan), yang terbit dalam tahun 1943.
Manusia tidak memiliki apa-apa saat dilahirkan dan selama hidupnya ia tidak
lebih hasil kalkulasi dari komitmen-komitmennya di masa lalu. Karena itu,
menurut Sartre selanjutnya, satu-satunya landasan nilai adalah kebebasan
manusia (L’homme est condamné à être libre). Ia menekankan pada kebebasan
manusia, manusia setelah diciptakan mempunyai kebebasan untuk menetukan dan
mengatur dirinya. Konsep manusia yang bereksistensi adalah makhluk yang hidup
dan berada dengan sadar dan bebas bagi diri sendiri.
3). Martin
Heidegger
Martin
Heidegger (lahir di Mebkirch, Jerman, 26 September 1889 meninggal 26 Mei 1976
pada umur 86 tahun) adalah seorang filsuf asal Jerman. Ia belajar di
Universitas Freiburg di bawah Edmund Husserl, penggagas fenomenologi, dan
kemudian menjadi profesor di sana 1928.
Inti pemikirannya adalah keberadaan manusia diantara keberadaan yang lain, segala sesuatu yang berada diluar manusia selalu dikaitkan dengan manusia itu sendiri, dan benda-benda yang ada diluar manusia baru mempunyai makna apabila dikaitkan dengan manusia karena itu benda-benda yang berada diluar itu selalu digunakan manusia pada setiap tindakan dan tujuan mereka. Dengan kata lain, benda-benda materi, alam fisik, dunia yang berada di luar manusia tidak akan bermakna atau tidak memiliki tujuan apa-apa kalau terpisah dari manusia. Jadi, dunia ini bermakna karena manusia.
Inti pemikirannya adalah keberadaan manusia diantara keberadaan yang lain, segala sesuatu yang berada diluar manusia selalu dikaitkan dengan manusia itu sendiri, dan benda-benda yang ada diluar manusia baru mempunyai makna apabila dikaitkan dengan manusia karena itu benda-benda yang berada diluar itu selalu digunakan manusia pada setiap tindakan dan tujuan mereka. Dengan kata lain, benda-benda materi, alam fisik, dunia yang berada di luar manusia tidak akan bermakna atau tidak memiliki tujuan apa-apa kalau terpisah dari manusia. Jadi, dunia ini bermakna karena manusia.
4). Friedrich
Nietzsche
Menurut
Friedrich, manusia yang berkesistensi adalah manusia yang mempunyai keinginan
untuk berkuasa (will to power), dan untuk berkuasa manusia harus menjadi
manusia super (uebermensh) yang mempunyai mental majikan bukan mental budak.
Dan kemampuan ini hanya dapat dicapai dengan penderitaan karena dengan
menderita orang akan berfikir lebih aktif dan akan menemukan dirinya sendiri.
5). Nicholas
Berdyaev
Berdyaev dilahirkan di Kiev dalam
suatu keluarga militer aristokrat. Ia hidup sendirian di masa kanak-kanaknya di
rumah, dan perpustakaan ayahnya memungkinkannya banyak membaca. Ia membaca
karya-karya Hegel, Schopenhauer, dan Kant ketika usianya baru 14 tahun dan ia
menguasai berbagai bahasa asing. Filsafatnya dicirikan sebagai eksistensialis
Kristen. Ia sangat memperhatikan kreativitas dan khususnya kemerdekaan dari
segala sesuatu yang menghalangi kreativitas. Berdyaev adalah seorang Kristen
yang saleh, namun ia seringkali kritis terhadap gereja yang mapan. Sebuah
artikel pada 1913 mengecam Sinode Kudus dari Gereja Ortodoks Rusia menyebabkan
ia dituduh menghujat, dan hukumannya adalah pembuangan ke Siberia seumur hidup.
Perang Dunia dan Revolusi Bolshevik membuat ia tidak pernah diajukan ke
pengadilan.
c. konsep tujuan dalam pendidikan
Secara
sederhana, tujuan dalam bahasa. Inggris yaitu "goals, aims"
mengandung pengertian arah atau maksud yang hendak dicapai lewat upaya atau
aktivitas. Dengan adanya tujuan, semua aktivitas dan gerak manusia menjadi
terarah dan bermakna. Tanpa tujuan, semua aktifitas manusia akan kabur dan
terombang ambing. Dengan demikian, seluruh karya dan karsa manusia, harus
memiliki orientasi tertentu. Tujuan Pendidikan adalah hal pertama dan
terpenting bila kita merancang, membuat program, serta mengevaluasi pendidikan.
Menurut John Dewey menyebutkan 3 kriteria tentang tujuan yang baik antara lain:
·
Tujuan yang telah ada mestinya
menciptakan perkembangan lebih baik daripada kondisi-kondisi yang telah ada
sebelumnya.
·
Tujuan itu harus bersifat
fleksibel.
Dalam proses
kependidikan, tujuan akhir merupakan tujuan umum atau tujuan tertinggi yang
hendak dicapai. tujuan pendidikan sebenarnya adalah untuk mendorong setiap individu agar mampu mengembangkan semua
potensinya untuk pemenuhan diri serta mengembangkan kemampuan peserta didik
yang mencakup pengetahuan (kognitif) sikap, (efektif) keterampilan (skill)
perilaku hasil tindakan, serta pengalaman exploratis (pengalaman lapangan).
d. Implementasi Aliran Filsafat Eksistensialisme terhadap tujuan Pendidikan
Pandangan
tentang pendidikan, disimpulkan oleh Van Cleve Morris dalam Existensialisme
and Education, bahwa "Eksistensialisme tidak menghendaki adanya
aturan-aturan pendidikan dalam segala bentuk" oleh sebab itu
eksistensialisme dalam hal ini menolak
bentuk-bentuk pendidikan sebagaimana yang ada sekarang.
Menurut
eksistensialisme, pengetahuan kita tergantung kepada interprestasi tentang
realitas. Pengetahuan yang diberikan di sekolah bukan merupakan alat untuk
memperoleh pekerjaan atau karier anak,
melainkan pengetahuan itu dapat dijadikan alat perkembangan dan alat pemenuhan
diri ini merupakan teori pengetahuan dan kebenaran eksistensialisme yang
dikemukakan oleh Kneller.
Implementasi
aliran eksistensialisme tehadap pendidikan antara lain sebagai berikut:
·
Aliran ini mengutamakan
perorangan/ individu.
·
Memandang individu dalam
keadaan tunggal selama hidupnya.
·
Aliran filsafat ini percaya
akan kemampuan ilmu untuk memecahkan semua persoalannya.
·
Aliran ini membatasi
murid-murinya dengan buku-buku yang ditetapkan saja.
·
Aliran ini tidak menghendaki
adanya aturan-aturan pendidikan dalam segala bentuk.
Eksistensialisme menjadi
tonggak penting perkembangan pendidikan. Eksistensialisme memberikan pencerahan
bahwa pendidikan tidak semestinya membelenggu manusia. Menurut Fasli Jalal dan
Dedi Supriadi bahwa hal yang ada kesejalanan dengan acuan filosofis strategi
Pendidikan nasional bahwa pendidikan nasional perlu memiliki karakteristik yaitu :
(a) mampu mengembangkan
kreativitas, kebudayaan dan peradaban;
(b) mendukung dimenasi nilai
keunggulan;
(c) mengembangkan nilai-nilai
demokrasi, kemanusiaan, keadilan dan keagaman; (d) mengembangkan secara
berkelanjutan kinerja kreatif dan produktif yang koheren dengan ndai-niiai
moral.
Inti dari ajaran aliran filsafat ini adalah
respek terhadap individu yang unik pada setiap orang. Eksistensi mendahului
essensi kita masing-masing. Setiap individu menentukan untuk dirinya sendiri
apa itu benar, salah, indah, jelek. Pendidikan seyogyanya menekankan refleksi
personal yang mendalam terhadap komitmen dan pilihan sendiri. Manusia adalah
essensi dirinya. Kaum eksistensialisme menganjurkan bahwa pendidikan sebagai
cars membentuk manusia secara utuh, bukan hanya sebagai pembangun nalar.
Menurut Power,
Uyoh Sadulloh implikasi filsafat Ektensialisme terhadap tujuan Pendidikan adalah mendorong
individu mengembangkan potensi untuk pemenuhan diri. pandangan eksistensialisme tentang teori pendidikan yaitu tujuan pendidikan
adalah siswa mengembangkan potensinya masing-masing untuk mencari jati dirinya. Selain itu
juga filsafat eksistensi dalam Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan
kesadaran individu, memberi kesempatan untuk bebas memilih etika, mendorong
pengembangan pengetahuan diri sendiri, bertanggung jawab sendiri, dan
mengembangkan komitmen diri.
Jadi
implikasi pendidikan pada filsafat Ektensialisme terhadap tujuan Pendidikan
adalah memberikan pengalaman yang luas dan komprehensif dalam semua bentuk
kehidupan dalam hal ini setiap individu mempunyai eksistensi untuk dirinya
supaya mengembangkan potensi dalam dirinya.
ALIRAN EKSISTENSIALISME DALAM FILSAFAT
Filsafat
tidak akan didapat selain di dalam dan diantara manusia yang berfikir. Manusia
adalah mahluk yang berfikir : homo sapiens, dia mempunyai kesadaran, fikiran
dan roh. Jika ia bertindak, ia tahu bahwa ia bertindak dan jika ia berfikir, ia
tahu bahwa ia berfikir. Manusia adalah mahluk berfikir : filsuf adalah manusia
berfikir. Di dalam filsafat terdapat berbagai macam aliran. Disini akan dibahas
salah satu contoh aliran filsafat yaitu filsafat eksistensi.
Eksistensialisme
berkembang pada abad 20. Eksistensialisme adalah
filsafat yang memandang segala gejala dengan berpangkal kepada eksistensi. Eksistensi adalah cara manusia berada dalam dunia. Cara manusia berada dalam dunia berbeda dengan cara berada benda-benda. Benda-benda berada
dengan tidak sadar tanpa hubungan. Sedangkan manusia berada di dunia justru
berhubungan dengan sesama manusia dan berhubungan dengan benda-benda. Eksistensialisme adalah aliran yang tidak membahas esensi manusia
secara abstrak, melainkan secara spesifik yang meneliti kenyataan kongkret
manusia sebagaimana manusia itu sendiri berada dalam dunianya. Aliran ini
hendak mengungkapkan eksistensi manusia sebagaimana yang dialami manusia itu
sendiri. Oleh sebab itu, para eksistensialis menyebut manusia sebagai suatu
proses, menjadi gerak yang aktif dan dinamis. Dalam masalah kebebasan dan
kehidupan yang otentik oleh eksistensialisme dianggap sebagai dua masalah yang
sangat mendasar bagi kehidupan manusia. Manusia diyakini sebagai makhluk yang
bebas dan kebebasan itu adalah modal dasar untuk hidup sebagai individu yang
otentik dan bertanggung jawab.
a. Latar
belakang lahirnya filsafat eksistensialisme
Filsafat
eksistensialisme lahir dari berbagai krisis atau merupakan reaksi atas aliran
filsafat yang telah ada sebelumnya atau situasi dan kondisi dunia, yaitu:
1). Materialisme
Menurut pandangan materialisme, manusia
itu pada akhirnya adalah benda seperti halnya kayu dan batu. Memang orang
materialis tidak mengatakan bahwa manusia sama dengan benda, akan tetapi mereka
mengatakan bahwa pada akhirnya, jadi pada prinsipnya, pada dasarnya, pada
instansi yang terakhir manusia hanyalah sesuatu yang material; dengan kata lain
materi; betul-betul materi. Menurut bentuknya memang manusia lebih unggul ketimbang
sapi tapi pada eksistensinya manusia sama saja dengan sapi.
2). Idealisme
Aliran ini memandang manusia hanya
sebagai subyek, hanya sebagai kesadaran; menempatkan aspek berpikir dan
kesadaran secara berlebihan sehingga menjadi seluruh manusia, bahkan dilebih-lebihkan
lagi sampai menjadi tidak ada barang lain selain pikiran.
3). Situasi dan Kondisi Dunia
Munculnya eksistensialisme didorong
juga oleh situasi dan kondisi di dunia Eropa Barat yang secara umum dapat
dikatakan bahwa pada waktu itu keadaan dunia tidak menentu. Tingkah laku
manusia telah menimbulkan rasa muak atau mual. Penampilan manusia penuh
rahasia, penuh imitasi yang merupakan hasil persetujuan bersama yang palsu yang
disebut konvensi atau tradisi. Manusia berpura-pura, kebencian merajalela,
nilai sedang mengalami krisis, bahkan manusianya sendiri sedang mengalami
krisis. Sementara itu agama di sana dan di tempat lain dianggap tidak mampu
memberikan makna pada kehidupan.
Sartre,
filsuf eksistensi perancis dewasa ini malahan mengatakan, bahwa kesadaran pada
manusia adalah bersifat bertanya yang sebenar-benarnya. Yang bertanya ialah
manusia; yang ditanya ialah kenyataan dalam arti yang paling umum; yang menjadi
pokok pertanyaan mungkin; sebab atau tujuan
peristiwa-peristiwa tertentu, arti kejadian-kejadian tertentu, akibat
perbuatan-perbuatan tertentu dan sebagainya. Kaum filsafat eksistensi adalah
ahli fikir dari type yang berlainan sekali daripada
kaum neopositivis, mereka lebih lincah, lebih dramatis lebih problematis dan
lebih irasionil. Persoalan mereka, problematik mereka adalah lain sama sekali.
Mereka tidak pertama-tama merenungkan ilmu dan metode keilmuan, melainkan
manusia dan kemanusiaan.
b. Tokoh-tokoh
Eksistensialisme dan Ajarannya
Eksistensialisme
berasal dari pemikiran Soren Kierkegaard ( Denmark, 1833-1855), namun Jean Paul
Sartre (1905-1980) yang mempopulerkan aliran ini. Selain dua tokoh di atas,
masih banyak tokoh-tokoh dalam aliran ini. Berikut tokoh-tokoh dalam aliran
eksistensialisme adalah :
1). Soren Kierkegaard
Soren
Aabye Kierkegaard (lahir di Kopenhagen, Denmark, 5 Mei 1813 – meninggal di
Kopenhagen, Denmark, 11 November 1855 pada umur 42 tahun) adalah seorang filsuf
dan teolog abad ke-19 yang berasal dari Denmark.
Menurut
Kierkegaard manusia tidak pernah hidup sebagai sesuatu “aku umum”, tetapi
sebagai “aku individual”. Inti pemikirannya adalah eksistensi manusia bukanlah
sesuatu yang statis tetapi senantiasa menjadi, manusia selalu bergerak dari
kemungkinan menuju suatu kenyataan, dari cita-cita menuju kenyataan hidup saat
ini. Jadi ditekankan harus ada keberanian dari manusia untuk mewujudkan apa
yang ia cita-citakan atau apa yang ia anggap kemungkinan. Kesadaran akan diri
merupakan kata kunci, karena melalui kesadaran akan dirinya inilah manusia
berproses ke arah yang lebih baik. Kesadaran akan diri muncul bila manusia
memiliki kebebasan menentukan.
2). Jean Paul
Sartre
Jean Paul Sartre (1905-1980) lahir
tanggal 21 Juni 1905 di Paris dan meninggal di Paris, 15 April 1980 pada umur
74 tahun) adalah seorang filsuf dan penulis Perancis. Ia dianggap yang
mempopulerkan aliran eksistensialisme. Sebagai filsuf dia dikenal karena
beberapa uraian psichologi tentang khayalan dan pula karena karangannya yang
besar L’etre et le neant (wujud dan ketiadaan), yang terbit dalam tahun 1943.
Manusia tidak memiliki apa-apa saat dilahirkan dan selama hidupnya ia tidak
lebih hasil kalkulasi dari komitmen-komitmennya di masa lalu. Karena itu,
menurut Sartre selanjutnya, satu-satunya landasan nilai adalah kebebasan
manusia (L’homme est condamné à être libre). Ia menekankan pada kebebasan
manusia, manusia setelah diciptakan mempunyai kebebasan untuk menetukan dan
mengatur dirinya. Konsep manusia yang bereksistensi adalah makhluk yang hidup
dan berada dengan sadar dan bebas bagi diri sendiri.
3). Martin
Heidegger
Martin
Heidegger (lahir di Mebkirch, Jerman, 26 September 1889 meninggal 26 Mei 1976
pada umur 86 tahun) adalah seorang filsuf asal Jerman. Ia belajar di
Universitas Freiburg di bawah Edmund Husserl, penggagas fenomenologi, dan kemudian
menjadi profesor di sana 1928.
Inti pemikirannya adalah keberadaan manusia diantara keberadaan yang lain, segala sesuatu yang berada diluar manusia selalu dikaitkan dengan manusia itu sendiri, dan benda-benda yang ada diluar manusia baru mempunyai makna apabila dikaitkan dengan manusia karena itu benda-benda yang berada diluar itu selalu digunakan manusia pada setiap tindakan dan tujuan mereka. Dengan kata lain, benda-benda materi, alam fisik, dunia yang berada di luar manusia tidak akan bermakna atau tidak memiliki tujuan apa-apa kalau terpisah dari manusia. Jadi, dunia ini bermakna karena manusia.
Inti pemikirannya adalah keberadaan manusia diantara keberadaan yang lain, segala sesuatu yang berada diluar manusia selalu dikaitkan dengan manusia itu sendiri, dan benda-benda yang ada diluar manusia baru mempunyai makna apabila dikaitkan dengan manusia karena itu benda-benda yang berada diluar itu selalu digunakan manusia pada setiap tindakan dan tujuan mereka. Dengan kata lain, benda-benda materi, alam fisik, dunia yang berada di luar manusia tidak akan bermakna atau tidak memiliki tujuan apa-apa kalau terpisah dari manusia. Jadi, dunia ini bermakna karena manusia.
4). Friedrich
Nietzsche
Menurut
Friedrich, manusia yang berkesistensi adalah manusia yang mempunyai keinginan
untuk berkuasa (will to power), dan untuk berkuasa manusia harus menjadi
manusia super (uebermensh) yang mempunyai mental majikan bukan mental budak.
Dan kemampuan ini hanya dapat dicapai dengan penderitaan karena dengan
menderita orang akan berfikir lebih aktif dan akan menemukan dirinya sendiri.
5). Nicholas
Berdyaev
Berdyaev dilahirkan di Kiev dalam
suatu keluarga militer aristokrat. Ia hidup sendirian di masa kanak-kanaknya di
rumah, dan perpustakaan ayahnya memungkinkannya banyak membaca. Ia membaca
karya-karya Hegel, Schopenhauer, dan Kant ketika usianya baru 14 tahun dan ia
menguasai berbagai bahasa asing. Filsafatnya dicirikan sebagai eksistensialis
Kristen. Ia sangat memperhatikan kreativitas dan khususnya kemerdekaan dari
segala sesuatu yang menghalangi kreativitas. Berdyaev adalah seorang Kristen
yang saleh, namun ia seringkali kritis terhadap gereja yang mapan. Sebuah
artikel pada 1913 mengecam Sinode Kudus dari Gereja Ortodoks Rusia menyebabkan
ia dituduh menghujat, dan hukumannya adalah pembuangan ke Siberia seumur hidup.
Perang Dunia dan Revolusi Bolshevik membuat ia tidak pernah diajukan ke
pengadilan.
Langganan:
Postingan (Atom)